JARUM jam sudah menunjukkan pukul 10:34 PM, namun baru beberapa halaman saja yang sudah berhasil diperiksa. Sepertinya malam ini memang agak telat selesai, memakan waktu lebih lama dari biasanya.
Entah apa penyebabnya, yang jelas lembaran pertama yang berhasil diperiksa tadi, tepat pukul 07:30 PM. Padahal kami biasa memeriksa sebanyak 12 halaman.
Konsentrasi kami yang lagi sibuk-sibuknya berpindah ke kantor baru, ditaksir sebagai salah satu penyebab. Pasalnya, sedari siang sampai sore tadi sejumlah orang di kantor ini terlihat sibuk mengepak barang pribadi masing-masing. Ada yang cuma satu dus besar, tapi tak sedikit yang memakan lebioh dari lima dus. Waah.....
Yupz, mulai Senin (220/7) besok kami memang resmi bekerja di kantor baru. Kantor yang terletak di Jalan Sekelimus 2-4, Soekarno-Hatta. Meski belum pernah melihat langsung kantor baru, tetapi dari keterangan sejumlah orang, sepertinya kantor baru itu jauh lebih nyaman. Mudah-mudahan saja.
Bukan nyaman dalam arti berlebihan, tetapi tentu saja nyaman dalam bekerja. Dengan begitu, saya pun bisa lebih semangat. Semoga....
Untuk kantor baru itu, tentu saya yang merupakan anak kosan sudah berpikir panjang ke deapn. Untuk memudahkan mobilitas dalam bekerja, saya sudah berpikir sedari jauh jika kelak saya akan memilih tempat kos yang lebih dekat ke kantor.
So pasti, saya akan pindah dari tempat kos lama, menuju tempat kos baru yang tak jauh dari Jalan Sekelimus. Selama ini saya kos di daerah Jalan Jakarta, tepatnya di belakang Lucky Square, yang tentu cukup jauh dari kantor baru.
Selasa, 14 Juli 2009
Selasa, 07 Juli 2009
Mie "Tek Tek"
BEBERAPA saat lalu, sebelum tugas menumpuk, saya sempatkan diri untuk membeli makanan terlebih dahulu. Tujuannya tentu saja, kalau bukan untuk mengisi perut yang kebetulan sedari siang tadi memang masih kosong.
Jalan Baranangsiang pun menjadi tempat tujuan untuk mencari isi perut itu. Saya ajak seorang kawan untuk ikut bersama ke sana. Ya, tepatnya untuk membeli makan juga. Kebetulan dia juga mengaku lapar dan butuh makanan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan.
Melewati jalanan pasar Kosambi sampai akhirnya tiba di sebuah tenda makan di Jalan Baranangsiang, tak jauh dari gedung kesenian "Rumentangsiang". Gedung kesenian yang dahulu cukup termasyhur namanya, namun kini seiring berjalannya waktu, nama "Rumentangsiang" seakan-akan tenggelam. Tak dikenal, apalagi oleh anak muda yang bukan asli Bandung (seperti saya ini).
Sebuah tenda nasi goreng pun dipilih. Kebetulan tempat tersebut sudah pernah kami (saya dan kawan) singgahi beberapa pekan ke belakang. Ketika itu, kami yang tengah bertugas piket malam merasakan lapar luar biasa. Diputuskanlah untuk mencari makan terlebih dahulu, dan ketemulah tenda nasi goreng itu.
Memesan satu dua porsi nasi goreng untuk kami berdua. Dibungkus, karena kami ingin memakannya di kantor. Bukan untuk apa-apa, bukan untuk pamer ke rekan yang lain, tetapi kami merasa lebih nyaman seperti itu. Tentu saja, tugas yang masih menumpuk menjadi pertimbangannya.
Setelah dirasa nasi goreng buatan Bapak Anu (entahlah saya belum tahu namanya) cukup enak, kami pun seperti ketagihan. Malam ini pun kami putuskan untuk membeli makan kembali ke tenda nasi goreng tersebut.
Namun kali ini bukan nasi goreng yang saya pesan. Saya lebih memilih mie "Tek Tek" berkuah. Saya pikir rasanya yang bercampur pedas akan menjadi "seni" tersendiri di lidah saya. Apalagi selama ini saya memang "mengidolakan" mie "Tek Tek", terutama mie "Tek Tek" yang selalu lewat tempat kos saya setiap malam.
Wanginya yang khas, karena dimasak dengan arang (bukan kompor gas) menjadi day atarik tersendiri. Apalagi mie "Tek Tek" tersebut selalu ditaburi irisan cabai rawit yang super nikmat. Waw.... luar biasa rasanya.
Membayangkan mie "Tek Tek" yang kerap saya beli di tempat kos membuat saya memutuskan untuk membeli mie tersebut pada Bapak yang ada di tenda nasi goreng. Kebetulan juga, ada menu mie "Tek Tek" yang ditawarkan.
Namun apa yang terjadi? Ternyata mie "Tek Tek" yang diperoleh dari si Bapak di tenda nasi goreng itu jauh dari yang saya bayangkan. Mie "Tek Tek" yang saya dapatkan malam ini tidak jauh beda dengan mie goreng kebanyakan. Pokoknya rasanya juga jauh berbeda, apalagi aroma khasnya, tidak ada sama sekali.
Tapi apa boleh buat, mie "Tek Tek" itu sudah saya beli. Mubazir jika tidak dimakan. Apalagi dengan kondisi perut yang memang dari tadi minta untuk diisi. Mie "Tek Tek" yang kurang enak pun habis dilahap. Tinggal mangkuknya saja yang tersisa. (dasar emang doyan aja kali......!!!!)
Bandung 070709
Jalan Baranangsiang pun menjadi tempat tujuan untuk mencari isi perut itu. Saya ajak seorang kawan untuk ikut bersama ke sana. Ya, tepatnya untuk membeli makan juga. Kebetulan dia juga mengaku lapar dan butuh makanan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan.
Melewati jalanan pasar Kosambi sampai akhirnya tiba di sebuah tenda makan di Jalan Baranangsiang, tak jauh dari gedung kesenian "Rumentangsiang". Gedung kesenian yang dahulu cukup termasyhur namanya, namun kini seiring berjalannya waktu, nama "Rumentangsiang" seakan-akan tenggelam. Tak dikenal, apalagi oleh anak muda yang bukan asli Bandung (seperti saya ini).
Sebuah tenda nasi goreng pun dipilih. Kebetulan tempat tersebut sudah pernah kami (saya dan kawan) singgahi beberapa pekan ke belakang. Ketika itu, kami yang tengah bertugas piket malam merasakan lapar luar biasa. Diputuskanlah untuk mencari makan terlebih dahulu, dan ketemulah tenda nasi goreng itu.
Memesan satu dua porsi nasi goreng untuk kami berdua. Dibungkus, karena kami ingin memakannya di kantor. Bukan untuk apa-apa, bukan untuk pamer ke rekan yang lain, tetapi kami merasa lebih nyaman seperti itu. Tentu saja, tugas yang masih menumpuk menjadi pertimbangannya.
Setelah dirasa nasi goreng buatan Bapak Anu (entahlah saya belum tahu namanya) cukup enak, kami pun seperti ketagihan. Malam ini pun kami putuskan untuk membeli makan kembali ke tenda nasi goreng tersebut.
Namun kali ini bukan nasi goreng yang saya pesan. Saya lebih memilih mie "Tek Tek" berkuah. Saya pikir rasanya yang bercampur pedas akan menjadi "seni" tersendiri di lidah saya. Apalagi selama ini saya memang "mengidolakan" mie "Tek Tek", terutama mie "Tek Tek" yang selalu lewat tempat kos saya setiap malam.
Wanginya yang khas, karena dimasak dengan arang (bukan kompor gas) menjadi day atarik tersendiri. Apalagi mie "Tek Tek" tersebut selalu ditaburi irisan cabai rawit yang super nikmat. Waw.... luar biasa rasanya.
Membayangkan mie "Tek Tek" yang kerap saya beli di tempat kos membuat saya memutuskan untuk membeli mie tersebut pada Bapak yang ada di tenda nasi goreng. Kebetulan juga, ada menu mie "Tek Tek" yang ditawarkan.
Namun apa yang terjadi? Ternyata mie "Tek Tek" yang diperoleh dari si Bapak di tenda nasi goreng itu jauh dari yang saya bayangkan. Mie "Tek Tek" yang saya dapatkan malam ini tidak jauh beda dengan mie goreng kebanyakan. Pokoknya rasanya juga jauh berbeda, apalagi aroma khasnya, tidak ada sama sekali.
Tapi apa boleh buat, mie "Tek Tek" itu sudah saya beli. Mubazir jika tidak dimakan. Apalagi dengan kondisi perut yang memang dari tadi minta untuk diisi. Mie "Tek Tek" yang kurang enak pun habis dilahap. Tinggal mangkuknya saja yang tersisa. (dasar emang doyan aja kali......!!!!)
Bandung 070709
Nyontreng
Besok merupakan hari paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Mengapa demikian? Tentu saja karena besoklah yang menentukan nasib bangsa ini ke depan. Menjadi lebih baik atau sebaliknya.
Ya, besok secara serentak seluruh rakyat Indonesia yang sudah memiliki hak pilih akan menggunakan haknya. Mereka akan memilih satu dari tiga kandidat pasangan calon presiden-wakil presiden. Tentu, pasangan yang akan memimpin bangsa ini untuk lima tahun ke depan.
Omong-omong soal nyontreng (cara baru dalam milih), kira-kira siapa ya yang akan banyak mendapat contrengan rakyat kali ini. Pasangan nomor satukah, dua, atau tiga? Ya Wallahu 'Alam, karena semuanya rahasia. Hanya sang pemilih yang bisa menentukan. Ya, hanya rakyat Indonesia lah yang menentukan, karena merekalah yang memilih langsung pemimpinnya.
Saya dan mungkin seluruh rakyat Indonesia hanya berharap, mudah-mudahan pemimpin yang terpilih nanti bisa membawa negeri ini menjadi lebih baik. Lebih baik dalam segala hal. Semoga
Selamat memilih rakyat Indonesia,
Pergunakanlah hak Anda sebaik mungkin...!!!!
Masa depan bangsa ada di tangan kita semua.......
Bandung, 070709
Ya, besok secara serentak seluruh rakyat Indonesia yang sudah memiliki hak pilih akan menggunakan haknya. Mereka akan memilih satu dari tiga kandidat pasangan calon presiden-wakil presiden. Tentu, pasangan yang akan memimpin bangsa ini untuk lima tahun ke depan.
Omong-omong soal nyontreng (cara baru dalam milih), kira-kira siapa ya yang akan banyak mendapat contrengan rakyat kali ini. Pasangan nomor satukah, dua, atau tiga? Ya Wallahu 'Alam, karena semuanya rahasia. Hanya sang pemilih yang bisa menentukan. Ya, hanya rakyat Indonesia lah yang menentukan, karena merekalah yang memilih langsung pemimpinnya.
Saya dan mungkin seluruh rakyat Indonesia hanya berharap, mudah-mudahan pemimpin yang terpilih nanti bisa membawa negeri ini menjadi lebih baik. Lebih baik dalam segala hal. Semoga
Selamat memilih rakyat Indonesia,
Pergunakanlah hak Anda sebaik mungkin...!!!!
Masa depan bangsa ada di tangan kita semua.......
Bandung, 070709
Selasa, 09 Juni 2009
Lumayan......
SEPIRING baso tahu atau siomay kurasa cukup lumayan untuk bisa mengganjal perut. Bukan saja mengganjal peruta yang memang tengah meronta minta diisi, tapi juga lumayan ikut menghangatkan tubuhku yang sedari tadi "dingin" akibat sendirian saja.
Baso tahu yang kubeli dari si Emang di depan gerbang kantor memang sedikit-banyak telah membantuku. Membantu dari rasa lapar dan "dingin" tentunya. Bahkan mungkin aku sangat menikmati baso tahu itu ketika tadi melahapnya. Sampai seseorang berkata, "nikmatin banget kayaknya????"
Ya gimana tidak nikmat. Semua itu adalah nikmat. Bentuk atas nikmat yang diberikan Tuhan untukku malam ini. Di saat aku tengah lapar mencari makan, tiba-tiba ketika aku berjalan sedikit ke luar ruangan dan menengok pintu gerbang kantor, gerobak baso tahu telah menanti. Walau sebetulnya yang aku cari adalah bubur ayam, tapi baso tahu juga gak jadi masalah. Toh bisa membantuku.
Perutku pun kini jadi terisi, tak ada lagi lapar yang terasa. Lumayan memang, sepiring baso tahu di kala perut tengah lapar dan badan terasa dingin akibat udara malam sehabis terkena rincikan hujan. Sungguh lumayan memang.....
Baso tahu yang kubeli dari si Emang di depan gerbang kantor memang sedikit-banyak telah membantuku. Membantu dari rasa lapar dan "dingin" tentunya. Bahkan mungkin aku sangat menikmati baso tahu itu ketika tadi melahapnya. Sampai seseorang berkata, "nikmatin banget kayaknya????"
Ya gimana tidak nikmat. Semua itu adalah nikmat. Bentuk atas nikmat yang diberikan Tuhan untukku malam ini. Di saat aku tengah lapar mencari makan, tiba-tiba ketika aku berjalan sedikit ke luar ruangan dan menengok pintu gerbang kantor, gerobak baso tahu telah menanti. Walau sebetulnya yang aku cari adalah bubur ayam, tapi baso tahu juga gak jadi masalah. Toh bisa membantuku.
Perutku pun kini jadi terisi, tak ada lagi lapar yang terasa. Lumayan memang, sepiring baso tahu di kala perut tengah lapar dan badan terasa dingin akibat udara malam sehabis terkena rincikan hujan. Sungguh lumayan memang.....
Sendiri
MALAM ini aku memang bertugas sendiri di kantor. Tak ada rekan lain yang biasa "setia" menemani. Mereka semua bsen, dengan alasan yang berbeda. Sakit dan entahlah sebutan apa yang harus aku namakan untuk teman piketku satu lagi. Yang jelas malam ini dia sama sekali "tidak membantu".
Udahlah, aku gak mau membahas semua itu. Yang jelas saat ini aku sendiri brtugas di kantor. Hanya ada redaktur dan lain-lain yang "setia" menemani kesendirianku malam ini. Agak berat memang. Bukan hanya berat karena gak ada yang bias diajak ngobrol atau "dikejain", tapi berat karena aku harus menjalankan tugas ini sendirian.
Aku gak tahu sampai jam berapa tugasku akan kelar. Yang jelas berdasarkan pengalaman biasanya, yang mana aku kerjakan tugas ini beramai-ramai, tugas baru kelar pukul 23.00-00.00 tengah malam. Entah malam ini, di mana aku kerjakan semua tugas sendiri. Mungkin lebih lama, tapi bisa saja lebih cepat (jika redaktur berhasil menyelesaikan tugasnya lebih cepat).
Udahlah, aku gak mau membahas semua itu. Yang jelas saat ini aku sendiri brtugas di kantor. Hanya ada redaktur dan lain-lain yang "setia" menemani kesendirianku malam ini. Agak berat memang. Bukan hanya berat karena gak ada yang bias diajak ngobrol atau "dikejain", tapi berat karena aku harus menjalankan tugas ini sendirian.
Aku gak tahu sampai jam berapa tugasku akan kelar. Yang jelas berdasarkan pengalaman biasanya, yang mana aku kerjakan tugas ini beramai-ramai, tugas baru kelar pukul 23.00-00.00 tengah malam. Entah malam ini, di mana aku kerjakan semua tugas sendiri. Mungkin lebih lama, tapi bisa saja lebih cepat (jika redaktur berhasil menyelesaikan tugasnya lebih cepat).
Selasa, 02 Juni 2009
Benci Hujan
JIKA ada pertanyaan apa yang kamu benci saat ini, aku pasti jawab hujan. Mengapa? Karena beberapa hari terakhir ini Bandung emang selalu dilanda hujan. Dan itu, terus terang saja mengganggu aktivitasku. Pokoknya benci banget deh sama hujan.
Aku juga gak tahu kenapa ya sekarang Bandung jadi sering dilanda hujan? Padahal udah bukan lagi musim hujan dan beberapa pekan sebelumnya juga langit Bandung selalu cerah disinari matahari. Wah panas deh pokoknya. Nah sekarang ini, berubah. Hujan terus.
Sudah bisa diprediksi, jika sekitar pukul 11.00 atau 12.00 udara gak enak banget. Gerah banget dicampur lembab, pasti deh sore harinya bakal turun hujan. Dan betul banget. Pokoknya pukul 13.00 ke sana pasti hujan turun deh. Dan itu biasanya cukup deras sehingga membuat jalanan banjir cileuncang.
Kalau sudah banjir cileuncang, wah so pasti lalu lintas di Bandung tersendat. Jalanan menjadi penuh kendaraan yang bergerak merayap. Maklum biasanya hujan turun tepat dengan jam kepulangan kerja. Dan itu, bikin semua orang jadi stres.
Malam ini juga hujan turun lagi. Dari suaranya yang kudengar dari dalam kantor sih sepertinya deras sekali. Mudah-mudahan saja tidak lama dan ketika aku pulang kerja nanti tengah malam, hujan sudah reda. Bukan apa-apa, aku benci aja sama hujan. Pasti semua jadi basah deh walo dah pake jas hujan juga..........
Aku juga gak tahu kenapa ya sekarang Bandung jadi sering dilanda hujan? Padahal udah bukan lagi musim hujan dan beberapa pekan sebelumnya juga langit Bandung selalu cerah disinari matahari. Wah panas deh pokoknya. Nah sekarang ini, berubah. Hujan terus.
Sudah bisa diprediksi, jika sekitar pukul 11.00 atau 12.00 udara gak enak banget. Gerah banget dicampur lembab, pasti deh sore harinya bakal turun hujan. Dan betul banget. Pokoknya pukul 13.00 ke sana pasti hujan turun deh. Dan itu biasanya cukup deras sehingga membuat jalanan banjir cileuncang.
Kalau sudah banjir cileuncang, wah so pasti lalu lintas di Bandung tersendat. Jalanan menjadi penuh kendaraan yang bergerak merayap. Maklum biasanya hujan turun tepat dengan jam kepulangan kerja. Dan itu, bikin semua orang jadi stres.
Malam ini juga hujan turun lagi. Dari suaranya yang kudengar dari dalam kantor sih sepertinya deras sekali. Mudah-mudahan saja tidak lama dan ketika aku pulang kerja nanti tengah malam, hujan sudah reda. Bukan apa-apa, aku benci aja sama hujan. Pasti semua jadi basah deh walo dah pake jas hujan juga..........
Mulai dari yang Sederhana
KEMAREN sore kebetulan aku liputan di Unpad, dan ada workshop di sana. Kebetulan juga Raditya Dika sebagai narasumber dalam acara tersebut. Ya sekalian be;ajar dari dia bagaimana ceritanya bisa nulis buku. Ternyata dia bilang, dia bisa nulis bukan karena jago, tapi karena kebiasaan nulis sejak kecil.
Ya emang benar. Pepatah mengatakan, "Bisa ala biasa". Begituah kira-kira. Dan dia pun emang sudah terbiasa nulis sejak kelas 4 SD. Bagaimana ceritanya? "Dulu gue sering nulis surat. Bahkan surat cinta untuk seorang cewek," katanya. Selain itu dia juga kerap nulis diary dan bertukar diary dengan temannya, yang kebetulan cewek juga.
Kebiasaan itulah yang kemudian terbawa sampe sekarang. Menulis dalam buku catatan sederhana, kemudian berkembang ke dalam blog dan akhirnya menjadi buku. Padahal kata Raditya, apa yang dia tulis cukup sederhana, bahkan bahan yang jadi buku juga sederhana, karena semuanya diambil dari blognya.
Raditya biasa menuliskan apa yang tengah dailaminya sehari-hari. Dan itu diramunya menjadi cerita yang cikup unik sehingga penerbitpun tertarik dan bersedia menerbitkannya. "Jangan takut untuk menuliskan apa yang kita alami sehari-hari. Karena gue juga dulu sempet nulis surat cinta untuk cewek dalam Bahasa Inggris. Apa yang terjadi? Surat gue bukannya dibalas tapi malah dibalikkin dengan tatanan Bahasa Inggris yang benar," kisahnya.
"Maklum, Bahasa Inggris gue jelek banget waktu SD tapi gue beraniin aja untuk nulis dalam Bahasa Inggris. Nah jika kalian pengen nulis yang benar jangan lupa kuasai dulu duduk permasalahannya. Jangan kayak gue yang sok tahu nulis dalam Bahasa Inggris," urainya sambil tertawa.
Menulis dari yang sederhana. Memang itulah yang harus dilakukan untuk mulai memberanikan diri. Jangan takut salah karena namanya juga belajar. Heheehe,,,,,, (*)
Ya emang benar. Pepatah mengatakan, "Bisa ala biasa". Begituah kira-kira. Dan dia pun emang sudah terbiasa nulis sejak kelas 4 SD. Bagaimana ceritanya? "Dulu gue sering nulis surat. Bahkan surat cinta untuk seorang cewek," katanya. Selain itu dia juga kerap nulis diary dan bertukar diary dengan temannya, yang kebetulan cewek juga.
Kebiasaan itulah yang kemudian terbawa sampe sekarang. Menulis dalam buku catatan sederhana, kemudian berkembang ke dalam blog dan akhirnya menjadi buku. Padahal kata Raditya, apa yang dia tulis cukup sederhana, bahkan bahan yang jadi buku juga sederhana, karena semuanya diambil dari blognya.
Raditya biasa menuliskan apa yang tengah dailaminya sehari-hari. Dan itu diramunya menjadi cerita yang cikup unik sehingga penerbitpun tertarik dan bersedia menerbitkannya. "Jangan takut untuk menuliskan apa yang kita alami sehari-hari. Karena gue juga dulu sempet nulis surat cinta untuk cewek dalam Bahasa Inggris. Apa yang terjadi? Surat gue bukannya dibalas tapi malah dibalikkin dengan tatanan Bahasa Inggris yang benar," kisahnya.
"Maklum, Bahasa Inggris gue jelek banget waktu SD tapi gue beraniin aja untuk nulis dalam Bahasa Inggris. Nah jika kalian pengen nulis yang benar jangan lupa kuasai dulu duduk permasalahannya. Jangan kayak gue yang sok tahu nulis dalam Bahasa Inggris," urainya sambil tertawa.
Menulis dari yang sederhana. Memang itulah yang harus dilakukan untuk mulai memberanikan diri. Jangan takut salah karena namanya juga belajar. Heheehe,,,,,, (*)
Langganan:
Postingan (Atom)