Senin, 23 Maret 2009
Hujan, Panas, Hujan Lagi........
Hujan masih terus mengguyur sampai akhir Februari lalu. Masuk Maret intensitasnya mulai berkurang, mungkin mulai masuk musim pancaroba (perubahan musim dari penghujan ke kemarau). Lama-lama hujan menghilang dan berubah jadi panas. Cuaca Bandung pun yang cendeung sejuk berubah drastsi menjadi sangat panas.
"Gerah banget," begitu komentar sejumlah orang ketika udara berubah panas.
Aku juga sama, merasakan hal serupa. Bahkan jika biasanya sepulang kerja aku jarang mandi, eh setelah udara menjadi super panas, berubah jadi WAJIB mandi.
Selang beberapa hari setelah panas yang cukup menyengat, tiba-tiba Bandung dilanda hujan kembali. Kali ini bukan saja hujan, tapi angin juga cukup kencang sampai ada sejumlah pohon yang tumbang akibat angin kencang.
Yang paling mengagetkan, Minggu (22/3) kemarin hujan yang turun cukup besar menyebabkan banjir di sejumlah titik di Kota Bandung. Jalan raya A Yani misalnya, terendam sekitar 30 cm sampai-sampai banyak sepeda motor yang mogok.
Ada apa ini? Kok cuaca Bandung sekarang semakin berubah????
Jumat, 20 Maret 2009
Mohon Maaf, Hanya Fiktif
Semua cerita yang aku tulis hanya fiktif. Tidak ada kesengajaan dalam penulisan alur ataupun tokoh dalam cerita tersebut. Jika ada kesamaan, itu hanya sebuah kebetulan semata. Makasih ya...
Salam,
penulis
(ida romlah)
Awan, Hujan dan Angin...........
Tanpa berpikir panjang, kulaju kendaraan Roda Dua-ku dengan kecepatan lebih dari biasanya. Tujuannya, tentu saja, agar aku tidak kena hujan tiba-tiba. Dan, pakaianku yang tanpa jacket itu, tidak basah kuyup.
Ada yang aneh juga memang dengan kostumku sore itu. Bukan aneh karena apa, cuma kala itu, aku bepergian tanpa mengenakan jacket. Padahal, biasanya aku selalu menyertakan "baju pelindung" itu di setiap perjalananku. Ya sudahlah, itu tidak perlu dibahas lebih jauh di sini, karena……………..(gk penting juga!)
Semakin lama, gerimis kecil yang sedari tadi menyertai perjalananku sore itu terus berubah semakin besar. Tanpa berpikir panjang, kuperlahan laju kendaraan, lalu kuhentikan, tepat di pinggir jalanan yang rindang dengan pepohonan. Kubuka jok tempat dudukku, dan kuambil jas hujan di bawah jok tersebut. "Untung aku bawa jas hujan ini tadi," gumamku dalam hati.
Benar saja, tidak lama dari itu, tiba-tiba saja hujan semakin deras. Bahkan amat sangat deras, dan jarak pandang pun hanya beberapa meter. Aku yang tidak bisa melihat dengan baik tanpa bantuan kaca mata, harus dibuat semakin sulit melihat karena kaca mataku berembun kena air hujan. Hugh…!!!
Perjalannku sore itu pun semakin sulit dengan ditambahnya angin kencang yang menggoyang-goyangkan ranting-ranting pepohonan. Semakin lama semakin kencang, dan muncul rasa ketakutan di lubuk hatiku. Takut tidak bisa mengendarai motor dengan baik.
Ya, tidak bisa melajukan kendaraan dengan baik. Itu ketakutanku kala itu, tentunya dengan berbagai alasan, pertama, aku takut nabrak orang sesama pengendara atau pepohonan di pinggiran jalan, atau mungkin jika ada pohon yang tumbang ke tengah jalan, karena aku tidak bisa melihat dengan jelas. Kedua, kendaraanku selalu goyang karena tiupan angin yang amat kencang itu, sehingga laju motorku tidak pernah lurus (stabil). Ketiga, takut kena pohon tumbang. Itu bisa berakibat fatal.
Setelah melaju sekitar 50 menit, akhirnya aku bisa sampai di rumah. Tentunya sampai dengan selamat. Alhamdulillah… ya Allah, Engkau teramat baik dan sayang kepadaku, melindungi aku dalam perjalanan sore itu dalam situasi yang teramat "menakutkan"-ku.
Subang, 2 Maret 2008
dr Marissa
"Kamu harus senantiasa siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di dunia ini, Sa!" ujarnya penuh ketulusan.
Mata Marissa memandang lurus ke depan, hampa dan sarat pilu.
"Tapi, mengapa semuanya terjadi begitu cepat? Satu persatu milik saya yang paling berharga pergi. Mas Kreshna pergi secara tiba-tiba dan mengenaskan, meninggalkan saya yang saat itu tengah mengandung… Padahal, ia suami yang baik. Saya masih ingat janjinya, akan mengajak saya berziarah ke tanah suci, sambil menunggu kelahiran putri kami yang bungsu. Kini belahan hati kami pun pergi menyusulnya dengan begitu cepat. Kamal tertabrak secara mengenaskan oleh orang yang tidak bertanggung jawab," Marissa menangis tersedu.
Lihatlah dari sisi positifnya, Sa. Aku yakin, semua kejadian ini pasti mengandung hikmah," Laila berusaha menasehati.
Marissa terdiam sementara pikirannya mengembara ke masa lalu.
"Kamu tidak sendiri, Sa. Masih ada Keyla, putri bungsumu yang sedang lucu-lucunya. Dia butuh perhatian kamu. Terus kamu juga masih punya Ibu, Bapak dan adek-adek kamu di Kampung. Mereka sangat sayang sama kamu. Dan aku, aku akan selalu ada buat kamu, Sa. Masihkah itu semua belum cukup untuk membuatmu dapat mensyukuri nikmat Tuhan?" Laila menambah pikiran Marissa semakin kencang berpacu.
Apakah saya harus menerima tawaran Ibu, Bapak dan adek-adekku pindah ke kampung agar semua kejadian ini dapat terlupakan?" akhirnya Marissa berkata.
Laila menghela napas. "Keputusan ada di tangan kamu, Sa. Namun kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan itu. Keluarga kamu di Kampung memang sangat teramat saya ng sama kamu, namun alangkah lebih baiknya kamu istikharah dulu. Minta petunjuk yang baik pada-Nya."
Jawaban Laila masuk akal, karena walau bagaimanapun, Marissa masih terikat pekerjaan di kota tersebut. Jika dia jadi pindah ke kampung kelahirannya di Purwakarta, dia harus direpotkan dengan mengurus kepindahan kerjanya, yang nota bene seorang pegawai negeri.
Hanya ada anggukan kepala Marissa sebagai jawaban atas tuturan yang diucapkan Laila.
**
"Sa, kamu sudah masuk kerja? Alhamdulillah, akhirnya…." dengan nada penuh kebahagiaan, Laila mendekati Marissa yang baru saja tiba di puskesmas.
"Aku sudah pikirkan matang. Dan, inilah jawaban atas semua doaku pada-Nya," Marissa menuturkan alasannya kembali masuk kerja. Dia pun segera memasukki ruang kerjanya.
Tidak hanya Laila, kawan-kawan di puskesmas tempatnya bekerja pun merasa senang dengan kehadiran Marissa. Bagaimana tidak, Marissa dikenal sebagai dokter teladan yang sangat baik hati terhadap sesama. Dan, peristiwa memilukan itu sangat dikhawatirkan rekan-rekannya akan membuat dokter cantik itu berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi itulah Marissa, ia perempuan tangguh, semangat hidupnya masih tinggi, sehingga ia tetap beraktivitas seperti biasanya meski musibah yang memilukan menimpanya.
"Sa, aku bangga sama kamu. Dan inilah diri kamu yang sebenarnya," ungkap Laila pada saat makan siang.
***
Subang, 9 Maret 2008
Jurnalis Sejati???
"Lho kok, kamu nyerah gitu sih. Bukannya itu adalah profesi yang kamu damba-dambakan sejak lama? Kenapa sekarang jadi banyak mengeluh?" Anita terus-terusan mengingatkanku saat kucurhat segala keluhan yang kualami setelah menjadi "kuli tinta" di sebuah koran harian.
Tujuannya sih bagus, dia pengen ngasih aku semangat. Tapi…. Ya, semoga saja aku tetap bersemangat, hingga cita-citaku menjadi Jurnalis sejati tercapai.
"Gimana mau jadi Jurnalis sejati, kalau baru beberapa minggu saja sudah ngeluh kaya gini," kini giliran Mita yang komentar.
"Kamu gak tahu sih Mit, gimana capainya jadi wartawan. Harus liputan ke sana-ke mari. Hugh,,, kadang suka putus asa kalau misalkan narasumbernya susah diajak ngomong. Kan repot, mesti mikir lagi, gimana caranya biar mereka bisa komen," aku tetap tidak mau kalah.
"Namanya juga hidup. Pasti penuh denagn perjuangan. Kalau kamu gak mau, ya udah gak usah dipaksain. Cuma, kamu mau ngapain kalau tidak menjalani tugasmu dengan baik itu?" Mita balik nanya.
"Iya sih, aku juga mikir, tapi…"
"Tapi apa?" Anita memotong omonganku.
Sumpah, aku kesel saat curhat semua itu. Mereka yang kuanggap sebagai teman baikku, bisa-bisanya ngomong kaya gitu. Mungkin sebaiknya dari awal aku memang tidak curhat kepada mereka. Tapi baguslah, itu berarti mereka selalu mendukungku.
"Ya Tuhan, semoga saja aku selalu diberi kekuatan untuk menjalankan segala proses hidup yang Kau gariskan untukku," harapku dalam setiap doa.
***
Subang, 3 April 2008
Hadiah
"Di mana ya, tadi kusimpan?" tanyaku dalam hati.
Tiba-tiba saja aku ingat. Pasti di saku tas yang paling dalam. Biasanya kan aku selalu nyimpan HP di sana. Benar juga, suara dering telepon tadi memang berasal dari saku tas tersebut.
Kulihat layar, tertulis Iki Zaki, Adik sepupuku yang baru berusia empat tahun. Ada apa, dia nelepon aku sore-sore begini.
"Halo…!" kuawali pembicaraan.
"Teh Ida?" terdengar suara beningnya nun jauh di sana.
"Ada apa?" aku langsung menanyakan tujuan dia menelepon.
"Juara. Iki juara mewarnai, dan dapat hadiah," terangnya.
Ya, dia memang kini tengah belajar di Paud (Pendidikan Anak Usia Dini) atau biasa disebut juga play group. Baru-baru ini di tempatnya belajar diadakan lomba mewarnai. Dan dia, membawa kabar baik, kalau dirinya jadi juara dalam lomba tersebut.
Dari suaranya terdengar kalau dia tengah bahagia. Ya, bahagia layaknya anak-anak yang tenagh kejatuhan bintang. Aku pun demikian, ketika kecil aku selalu merasa bahagia luar biasa jika jadi juara di sekolah.
Tiba-tiba saja pikiranku teringat pada masa aku duduk di bangku SD. Bukannya sombong, aku memang kerap menjadi juara pertama di kelas. Dan aku akan merasa senang luar biasa, jika guru mengumumkan siapa yang rangking pertama di kelas catur wulan (cawu) ini. Informasi saja, jamanku sekolah menggunakan sistim cawu bukan smester seperti sekarang ini. Proses belajar dievaluasi percawu atau perempat bulan sekali. Jadi, dalam setahun ada tiga cawu.
Cawu pertama dan kedua di kelas 1, aku rangking pertama. Bagaimana dengan cawu ketiga yang pengumuman hasil belajarnya selalu bertepatan dengan kenaikan kelas? Berita bagus, ketika diumumkan di depan para orang tua murid, aku menjadi juara pertama di kelas satu. Otomatis, hatiku senang. Yang lebih mendebarkan adalah aku dipanggil ke atas pentas untuk menerima penghargaan.
Naik ke pentas tidak sendirian, kami berenam. Semuanya merupakan juara pertama di masing-masing kelas, kelas 1 hingga kelas 6. Aku dapat hadiah, entah apa isinya, saat menerima bungkusan berwarna coklat aku belum mengetahuinya.
"Wah, selamat ya, Ida jadi juara," ucap teman-teman dan orang tua murid.
Tidak hanya untukku, mereka juga mengucapkan selamat kepada orang tuaku, yang kebetulan pada saat itu hadir. Kulihat raut kebahagiaan juga terpancar dari wajah Ibu-Bapakku.
"Apa ya kira-kira hadiahnya?" hatiku bertanya-tanya.
"Mungkin buku dan alat tulis lainnya," tebak temanku.
"Mungkin, karena biasanya hadiah tidak pernah jauh dari barang-barang keperluan sekolah seperti itu," pikirku.
Benar saja, tebakanku dan temanku 100 persen jitu. Isi bungkusan warna coklat tersebut adalah lima buah buku tulis.
Meski hadiahnya sederhana, namun aku tidak bisa membohongi betapa senangnya aku. Mungkin jika terlihat, perasaanku seperti berada di atas awang-awang. Melayang tinggi hingga mendekati langit biru.
Ya, yang namanya hadiah memang selalu membahagiakan setiap penerimanya. Meski bentuk atau harga barang yang dihadiahkan tidak seberapa. Begitu juga yang dirasakan adik sepupuku Iki saat ini. Perasaannya tengah melayang-layang. Bahagia luar biasa karena mendapat hadiah dari kejuaraan mewarnai di sekolahnya.
***
Subang, 3 April 2008
Jika Musim Panen Nanas di Wilayah Subang Dijadikan Oleh-oleh Khas, Dijajakan Sepanjang Jalan
Jika Musim Panen Nanas di Wilayah Subang
Dijadikan Oleh-oleh Khas, Dijajakan Sepanjang Jalan
Sudah jadi rahasia umum, Subang dikenal sebagai Kota Nanas. Pasalnya daerah yang terletak ke arah utara dari ibu kota provinsi Jawa Barat tersebut memiliki buah nanas khas. Diberi nama si madu, nanas tersebut konon terkenal dengan cita rasanya yang sangat manis, bahkan semanis madu.
Laporan Ida Romlah
dari Subang
NANAS si madu memang lain daripada yang lain. Rasanya yang khas, yakni sangat manis dan tidak merusak selera lidah layaknya rasa nanas biasa pada umumnya adalah salah satu cirinya. Tak heran, banyak orang dari luar kota nun jauh di sana sengaja mengunjungi atau hanya sekedar melintasi Subang, hanya karena ingin mencicipi buah satu itu. Di Subang, buah nanas ditanam di daerah bagian selatan, tepatnya di kawasan Kecamatan Jalancagak dan sekitarnya. Daerah tersebut dinilai cocok untuk membudidayakan buah tersebut karena iklimnya yang merupakan wilayah berdataran tinggi. Bahkan di sana, sejumlah warga sengaja berprofesi sebagai petani nanas. Jika musim panen nanas tiba, bukan hanya daerah asal nanas ditanam saja yang kebanjiran. Sejumlah wilayah di Subang juga ikut merasakan hawa panen tersebut. Salah satunya adalah dengan banyaknya otlet atau kios di sepanjang jalan raya yang ikut menjajakan buah tersebut. Seperti di sepanjang jalan raya Subang-Kalijati, tepatnya di sentra oleh-oleh Sukasari dan Dawuan, sejumlah kios tidak akan pernah ketinggalan untuk menawarkan buah khas Subang itu. Beranjak ke jalan raya dekat Subang kota, yakni daerah Dangdeur, pecinta buah nanas tidak perlu khawatir. Pasalnya di sepanjang jalan tersebut, kios-kios sudah barang tentu juga menjajakannya. Dari sekian nanas yang ada, annas si madu merupakan primadona. Karenanya, julukan Kota Nanas untuk Subang juga akibat dari adanya jenis si madu tersebut. Namun untuk bisa memperoleh nanas yang benar-benar merupakan jenis si madu, dinilai cukup sulit. Pasalnya nanas jenis itu sukar dibudidayakan, dan akan muncul tanpa diduga-duga. Eman, petani nanas asal Kumpay Jalancagak mengakui, banyak sekali pedagang yang menukil nama si madu untuk nanasnya. Padahal itu belum tentu benar, karena jumlah si madu tidak sebanyak jenis lainnya. “Si madu itu kadang kita gak tahu seperti apa pohonnya. Karena dia tumbuh tanpa diduga, sehingga sulit jika kita ingin membudidayakannya,” terang dia. Karena itu, dia berpesan jika ingin agar julukan Kota Nanas tetap dipegang Subang dan si madu tidak punah, petani dan semua pihak harus bisa mempertahankannya. Caranya, kembangkan pertanian nanas, jangan sampai punah. Apalagi jika lahan perkebunan nanas beralih fungsi jadi lahan perkebunan yang lain, bisa-bisa nama si madu tidak akan ditemukan lagi.(*)