Selasa, 21 April 2009
Absen Nulis
Penyebabnya tentu saja, malas. Bukan tanpa alasan, beberapa hari terakhir ini saya memang malas menulis. Capeklah, inilah, itulah dan sebagainya. Yang jelas, tak ada tulisan satupun yang berhasil "diproduksi" dan diposting di blog ini.
Beruntung, malam ini saya tiba-tiba pengen nulis. Kebetulan, jadwal piket malam sehingga bisa dengan leluasa "menguasai" komputer. Maklum selama ini, selesai kerja langsung pulang sehingga tak sempat menulis. Bukan tak sempat sih, tapi kembali lagi ke alasan awal, yakni malas.
Malas memang telah menjadi penyakit yang merusak seluruh kreativitas saya selama ini. Dengan alasan itu, saya tak bisa maksimal dalam berkarya. Makanya tak heran jika cowok saya selalu mengingatkan, "Tetap semangat ya, jangan malas," begitu kira-kira pesan yang selalu diberikannya pada saya. Entah lisan maupun tulisan melalui pesan singkat.
"Jangan malas, Da. Kamu harus tetap semangan dan tak boleh lagi absen nulis. Sesederhana apapun ceritamu, tulislah."
Kamis, 02 April 2009
Dendeng Sapi Tapi Mengandung Babi
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan beredarnya dendeng babi jika dalam kemasan dijelaskan secara terbuka. Yang jadi masalah adalah sang produsen tidak menyertakan bahan baku dalam label dendeng sehingga konsumen sukar untuk membedakan mana dendeng sapi asli, dan mana dendeng babi.
Bagi sebagain konsumen di tanah air, memakan daging babi bukan masalah. Halal hukumnya, kecuali bagi muslim. Namun itu tadi, yang jadi masalah adalah ketidaktransparan dari produsen.
Bukan hanya bahan baku sebetulnya yang jadi masalah dalam makanan bernama dendeng ini. Ketiadaan pencantuman batas tanggal kedaluarsa juga menjadi hal penting. Logikanya, bagaimana mungkin konsumen harus memakan makanan basi. Penyakit tentu yang akan diperolehnya.
Soal makanan kedaluarsa, saya jadi teringat rekan satu kos. Dia keracunan selama berhari-hari setelah meminum minuman dalam kemasan yang sudah kedaluarsa dua bulan lalu. Bagaimana bisa????? Bisa saja, karena kedau belah pihak, konsuemn dan penjual tidak berhati-hati.
Pertama, penjual dengan bebasnya menjajakan minuman tersebut meski dalam kemasannya tertulis exp: 0109 (batas minumnya pada Januari 2009). Lebih parah lagi, minuman tersebut disimpan dalam lemari pendingin pada baris paling depan. Apakah ini bukan bentuk ketidakhati-hatian? Mestinya penjual memeriksa minuman tersebut dan "menyingkirkan" dari peredaran.
Jangan lagi mikir untung-rugi secara ekonomi. Justru jika dijual, kerugianlah yang akan didapat, bukannya keuntungan yang diharapkan. Dikatakan rugi karena telah membuat orang lain sakit. Dalam agama tentu dosalah bagi si penjual.
Kedua, si pembeli juga tidak hati-hati karena dia tidak teliti sebelum membeli. Bukankah ketika membuka lemari pendingin, dia masih bisa melihat labelnya. Apakah masih dalam kondisi baik, masih layak konsumsi atau tidak, karena biasanya minuman kemasan meski tanggal kedaluarsanya masih jauh tapi kalau kemasan rusak, minuman juga kemungkinan besar ikut rusak. Artinya, tidak bisa dikonsumsi lagi.
Selain melihat kondisi kemasan, yang penting adalah melihat batas kedaluarsanya. Dan itu yang tidak dilakukan rekan satu kosku. Begitu juga saat hendak diminum, dia tidak melihat kembali label kedaluarsa. Padahal, tanggal tersebut jelas dipasang di dekat bolongan untuk sedotan. Baru setelah merasa mual dan muntah dia bertanya-tanya, apa penyebabnya.
Setelah diperiksa kembali, ternayat minuman itulah yang menjadi peyebabnya.
Mual dan muntah yang disertai pusing adalah tanda-tanda seseorang keracunan. Parahnya lagi, rekanku itu sampai berhari-hari mengalami hal itu, walau sudah diperiksakan ke dokter.
Itu adalah sebuah pelajaran bagi kita semua. Mulai detik ini mari kita, semua konsumen untuk lebih berhati-hati terhadap apapun yang akan kita konsumsi. Bukan saja makanan, minuman, tapi barang lain juga. Jangan sampai merugikan kita semua.....
Flu Sangat Mengganggu
Tapi syukur alhamdulillah, hari ini sedikit lebih baik. Setelah semalam istirahat cukup ditambah minum obat, ingus mulai sedikt berkurang. Mudah-mudahan aja bisa cepet sembuh supaya bisa bekerja dengan baik lagi. Aminn....
Senin, 23 Maret 2009
Hujan, Panas, Hujan Lagi........
Hujan masih terus mengguyur sampai akhir Februari lalu. Masuk Maret intensitasnya mulai berkurang, mungkin mulai masuk musim pancaroba (perubahan musim dari penghujan ke kemarau). Lama-lama hujan menghilang dan berubah jadi panas. Cuaca Bandung pun yang cendeung sejuk berubah drastsi menjadi sangat panas.
"Gerah banget," begitu komentar sejumlah orang ketika udara berubah panas.
Aku juga sama, merasakan hal serupa. Bahkan jika biasanya sepulang kerja aku jarang mandi, eh setelah udara menjadi super panas, berubah jadi WAJIB mandi.
Selang beberapa hari setelah panas yang cukup menyengat, tiba-tiba Bandung dilanda hujan kembali. Kali ini bukan saja hujan, tapi angin juga cukup kencang sampai ada sejumlah pohon yang tumbang akibat angin kencang.
Yang paling mengagetkan, Minggu (22/3) kemarin hujan yang turun cukup besar menyebabkan banjir di sejumlah titik di Kota Bandung. Jalan raya A Yani misalnya, terendam sekitar 30 cm sampai-sampai banyak sepeda motor yang mogok.
Ada apa ini? Kok cuaca Bandung sekarang semakin berubah????
Jumat, 20 Maret 2009
Mohon Maaf, Hanya Fiktif
Semua cerita yang aku tulis hanya fiktif. Tidak ada kesengajaan dalam penulisan alur ataupun tokoh dalam cerita tersebut. Jika ada kesamaan, itu hanya sebuah kebetulan semata. Makasih ya...
Salam,
penulis
(ida romlah)
Awan, Hujan dan Angin...........
Tanpa berpikir panjang, kulaju kendaraan Roda Dua-ku dengan kecepatan lebih dari biasanya. Tujuannya, tentu saja, agar aku tidak kena hujan tiba-tiba. Dan, pakaianku yang tanpa jacket itu, tidak basah kuyup.
Ada yang aneh juga memang dengan kostumku sore itu. Bukan aneh karena apa, cuma kala itu, aku bepergian tanpa mengenakan jacket. Padahal, biasanya aku selalu menyertakan "baju pelindung" itu di setiap perjalananku. Ya sudahlah, itu tidak perlu dibahas lebih jauh di sini, karena……………..(gk penting juga!)
Semakin lama, gerimis kecil yang sedari tadi menyertai perjalananku sore itu terus berubah semakin besar. Tanpa berpikir panjang, kuperlahan laju kendaraan, lalu kuhentikan, tepat di pinggir jalanan yang rindang dengan pepohonan. Kubuka jok tempat dudukku, dan kuambil jas hujan di bawah jok tersebut. "Untung aku bawa jas hujan ini tadi," gumamku dalam hati.
Benar saja, tidak lama dari itu, tiba-tiba saja hujan semakin deras. Bahkan amat sangat deras, dan jarak pandang pun hanya beberapa meter. Aku yang tidak bisa melihat dengan baik tanpa bantuan kaca mata, harus dibuat semakin sulit melihat karena kaca mataku berembun kena air hujan. Hugh…!!!
Perjalannku sore itu pun semakin sulit dengan ditambahnya angin kencang yang menggoyang-goyangkan ranting-ranting pepohonan. Semakin lama semakin kencang, dan muncul rasa ketakutan di lubuk hatiku. Takut tidak bisa mengendarai motor dengan baik.
Ya, tidak bisa melajukan kendaraan dengan baik. Itu ketakutanku kala itu, tentunya dengan berbagai alasan, pertama, aku takut nabrak orang sesama pengendara atau pepohonan di pinggiran jalan, atau mungkin jika ada pohon yang tumbang ke tengah jalan, karena aku tidak bisa melihat dengan jelas. Kedua, kendaraanku selalu goyang karena tiupan angin yang amat kencang itu, sehingga laju motorku tidak pernah lurus (stabil). Ketiga, takut kena pohon tumbang. Itu bisa berakibat fatal.
Setelah melaju sekitar 50 menit, akhirnya aku bisa sampai di rumah. Tentunya sampai dengan selamat. Alhamdulillah… ya Allah, Engkau teramat baik dan sayang kepadaku, melindungi aku dalam perjalanan sore itu dalam situasi yang teramat "menakutkan"-ku.
Subang, 2 Maret 2008
dr Marissa
"Kamu harus senantiasa siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di dunia ini, Sa!" ujarnya penuh ketulusan.
Mata Marissa memandang lurus ke depan, hampa dan sarat pilu.
"Tapi, mengapa semuanya terjadi begitu cepat? Satu persatu milik saya yang paling berharga pergi. Mas Kreshna pergi secara tiba-tiba dan mengenaskan, meninggalkan saya yang saat itu tengah mengandung… Padahal, ia suami yang baik. Saya masih ingat janjinya, akan mengajak saya berziarah ke tanah suci, sambil menunggu kelahiran putri kami yang bungsu. Kini belahan hati kami pun pergi menyusulnya dengan begitu cepat. Kamal tertabrak secara mengenaskan oleh orang yang tidak bertanggung jawab," Marissa menangis tersedu.
Lihatlah dari sisi positifnya, Sa. Aku yakin, semua kejadian ini pasti mengandung hikmah," Laila berusaha menasehati.
Marissa terdiam sementara pikirannya mengembara ke masa lalu.
"Kamu tidak sendiri, Sa. Masih ada Keyla, putri bungsumu yang sedang lucu-lucunya. Dia butuh perhatian kamu. Terus kamu juga masih punya Ibu, Bapak dan adek-adek kamu di Kampung. Mereka sangat sayang sama kamu. Dan aku, aku akan selalu ada buat kamu, Sa. Masihkah itu semua belum cukup untuk membuatmu dapat mensyukuri nikmat Tuhan?" Laila menambah pikiran Marissa semakin kencang berpacu.
Apakah saya harus menerima tawaran Ibu, Bapak dan adek-adekku pindah ke kampung agar semua kejadian ini dapat terlupakan?" akhirnya Marissa berkata.
Laila menghela napas. "Keputusan ada di tangan kamu, Sa. Namun kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan itu. Keluarga kamu di Kampung memang sangat teramat saya ng sama kamu, namun alangkah lebih baiknya kamu istikharah dulu. Minta petunjuk yang baik pada-Nya."
Jawaban Laila masuk akal, karena walau bagaimanapun, Marissa masih terikat pekerjaan di kota tersebut. Jika dia jadi pindah ke kampung kelahirannya di Purwakarta, dia harus direpotkan dengan mengurus kepindahan kerjanya, yang nota bene seorang pegawai negeri.
Hanya ada anggukan kepala Marissa sebagai jawaban atas tuturan yang diucapkan Laila.
**
"Sa, kamu sudah masuk kerja? Alhamdulillah, akhirnya…." dengan nada penuh kebahagiaan, Laila mendekati Marissa yang baru saja tiba di puskesmas.
"Aku sudah pikirkan matang. Dan, inilah jawaban atas semua doaku pada-Nya," Marissa menuturkan alasannya kembali masuk kerja. Dia pun segera memasukki ruang kerjanya.
Tidak hanya Laila, kawan-kawan di puskesmas tempatnya bekerja pun merasa senang dengan kehadiran Marissa. Bagaimana tidak, Marissa dikenal sebagai dokter teladan yang sangat baik hati terhadap sesama. Dan, peristiwa memilukan itu sangat dikhawatirkan rekan-rekannya akan membuat dokter cantik itu berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi itulah Marissa, ia perempuan tangguh, semangat hidupnya masih tinggi, sehingga ia tetap beraktivitas seperti biasanya meski musibah yang memilukan menimpanya.
"Sa, aku bangga sama kamu. Dan inilah diri kamu yang sebenarnya," ungkap Laila pada saat makan siang.
***
Subang, 9 Maret 2008